Merapi Mount Hiking After Eruption (2965 mdpl, Jawa Tengah)

Pendakian kali ini 8-9 Oktober 2011, aku memilih untuk mendaki Gunung Merapi,selain baru mengalami erupsi pada bulan November 2010, gunung merapi jugamempunyai tantangan tersendiri dalam mendakinya😀. Inilah pendakian keduakalinya buat aku, pertama aku mendaki Gunung Merapi pada akhir tahun 2008 (Ya,tepat sekali,  waktu hari pergantiantahun), waktu itu Gunung Merapi mempunyai puncak yang dikenal dengan PuncakGaruda, namun sekarang puncak itu udah roboh seiring dengan erupsi  November 2010 tersebut. Sekarang GunungMerapi memiliki kawah baru, yang mana penggabungan dari kawah mati dan kubahmagma Puncak Garuda.

Pendakian kali ini aku bersama teman-teman berjumlah 10 orang. Pendakian inisebenarnya mendadak aku lakukan, karena mengingat aku dan teman-teman yang lainpada sibuk untuk minggu berikutnya😀. Tanggal 8-oktober 2011, jam 5 sore akudan teman yang lain berangkat dari Jogja, dengan berkendara ke arah utara GunungMerapi tepatnya di Desa Selo.

Jam 9 malam kamipun tiba di Selo, basecamp Gunung Merapi. Sebelum mendaki, tak lupamakan mie dulu di warung dekat basecamp (pas banget gitu loh, dingin-dinginmaem mie *dengan logat ala alay,,,wkwk).
Cekidot foto-foto narsis di depan warung.

abis makan mie..
Setelah foto-foto narsis, aku dan teman yang lain langsungpacking. Di mulai dengan baca Doa kamipun capcusmendaki.

Malam itu bulan hampir penuh, sedikit mempermudah pendakian karena terangnyabulan. Debu yang sepanjang jalur pendakian seakan mengiringi hentakan langkahkami. Jam 1 dini hari pada tanggal 9 Oktober 2011, kamipun istirahat sebelumpasar bubrah. Tidur di atas debu, batu dan rumput (indah sekali, apalagi ditambah pake selimut puas banget tidur malam itu).

Jam 4 aku dan sebagian teman(karena 4 orang teman aku Andes, Edi, Fauzan dan Heriudah duluan nungguin di Pasar Bubrah)memulai pendakian lagi untuk melihatsunrise di Pasar Bubrah.
Cekidot foto-foto sunrise di Pasar Bubrah.

sunrise di Pasar Bubrah
Sunrise
Gunung Merbabu di sana…
Sesudah sunrise-an aku dan ketiga teman aku (Gandung, Roridan Putra melanjutkan naik, tidak dengan Gemblung, Ryan dan Arif yang menunggudi Pasar bubrah). Dari Pasar Bubrah jalur sangat curam sekali di tambah denganpasir kerikil yang membuat susah melangkah (kayak berjalan di atas kolam air debitsepinggang)dan juga batuan yang kurang resistern dapat menggelinding kebawahdan terkena teman sendiri (perlu kehati-hatian-nya dalam melangkah). Di tengahjalan, aku selisih dengan teman aku Andes, Fauzan, Heri dan Eddy, mereka udahke puncak duluan dan nanti menunggu di Pasar Bubrah.
Jalurnya edan..slope 60 derajat..
edy,heri, andes turun dan aku naik…
Sekitar 45 menit aku dan teman untuk dapat ke puncak GunungMerapi. Perasaan capek langsung berganti dengan semangat, senang dan haru.Akhirnya puncak telah di tapaki,segeralah kamera kesayangan aku keluar danmemotret apa saja yang aku lihat. Cekidot foto-foto aku dan teman di puncak.
I am Geoball
rori, aku, dan agrimz dengan bendera BAT
putra,,,
Kawah Merapi yang baru…terlihat lubang kepundan yang masih fresh..😀 dulu,,lava yg keluar dri sini mmbentuk dome..dan akhirnya pada ,November 2010,,dome itu roboh yg mengakibatkan terjadinya awan panas (wedus gembel)..
tebing kawah Merapi…
lubang magma, boleh tuh sekali-sekali masuk ke dalam, mana tau bisa tembus ke pantai selatan Jogja,,😀

Setelah selesai bernarsis ria di Puncak Merapi, aku danteman lain turun. Untuk jalur turun hanya membutuhkan waktu 15 menit saja,karena banyak pasir sehingga dapat ngesotria ;D.

kayak padang pasir,,
bisa maen sky,,,😀
Sesampaidi pasar bubrah, kami langsung foto bersama-sama untuk menutup foto blog kaliini😀.
fauzan, rori, heri, agrim, andes, ryan, gemblung, eddy, saya
putra dan arif
Jam 10 pagi kamipun turun karena awan sudah menutupi PasarBubrah pada waktu itu. Deburan debu membuat jarak masing-masing kami harusjauh, karena debu yang bertebangan layaknya wedus gembel.

Jam 1 siang, aku dan teman sampai di basecamp. Tak lupa makan mie lagi sebelumpulang. Abis makan, langsung tancap gas, pulang ke Jogja Istimewa😀.

Puji syukur kehadirat Tuhan YME, yang telah melindungi pendakian kali ini. Thanksbuat teman-teman  Geologi dalam divisi BumiAdventure Team (Heri, Fauzan, Andes, Rori, Ryan, Gemblung, Eddy, dan Agrimz) dan teman aku Putra dan Arif buat kerja samanya dalam pendakianini.

See u next time,  see u next trip &journal. Salam Bumi Selalu.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Cerita Dari Bledug Kuwu

Tempatwisata yang satu ini sangatlah unik, sangat berbeda dengan tempat wisata-wisatalainnya, tempat wisata ini bernama Bledug Kuwu. Jika di Amerika Serikat kitadapat menjumpai SALT LAKE (padang garam) yang berasal dari dangkalan laut kemudianberubah menjadi daratan luas, dan pada saat ini daratan tersebut seringdigunakan sebagai ajang pengujian kendaraan tercepat didunia. Lain halnyadengan dangkalan laut yang terdapat di Indonesia, sekaligus merupakan keajaibanalam yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain, namanya bledug kuwu, letaknyadisamping desa kluwu, kecamatan kradenan kabupaten grobogan, juga karenasuaranay yang secara periodik meletupkan bunyi bledug(seperti meriam yangterdengar dari kejauhan)dari gelembung lumpur bersamaan dengan keluarnya asap,gas dan air garam. Melalui proses tersebut menjadikan daratan bledug yangdulunya berada didasar laut, sekarang menjadi daratan yang mempunyai ketinggiankurang lebih 53m dari permukaan laut. Luas arealnya 45Ha dengan suhu minimum 31derajatcelcius.

Aku berangkat dari Jogja bersama temanku Iba, tanggal 02Oktober 2011, jam 09.00 WIB, sampainya di Bledug Kuwu siang jam 13.00 WIB (agaklama karena 1 jam aku habiskan waktu berkunjung ke museum manusia purba di Sangiran).
Perjalananyang melelahkan karena jalan yang rusak, apalagi dari Purwodadi –Kuwu banyakjalan yang berlubang. Sesampai di Bledug Kuwu aku langsung mengeluarkan kamerakesayangan buat mengabadikan moment jalan-jalan kali ini. Cekidot foto-fotonyalangsung reader.
Keasikan motret, dan ingin mendapatkan foto letusan BledugKuwu lebih dekat akhirnya aku masuk ke dalam lumpur, itu semua karena aku tidak membawa lensa tele maka harus memberanikanlebih dekat walaupun harus hati-hati dengan lumpur yang masih lunak dan cair. Yang tadinya aku pergi pake sepatu, pulangnya aku mengikhlaskan untuk memakai sandal jepit yang aku beli di warung Desa Kuwu.
masih juga narsis walau udah masuk lumpur
aku bersama almahrum sepatu
Di Bledug Kuwu, ada perbedaan yang sangat mencolok. Selama perjalanan kitadisuguhi oleh pemandangan alam yang indah dan subur, tetapi sangat bertolakbelakang dengan Bledug Kuwu. Daerah yang sangat tandus, panas, dan tidak subur.Tetapi ini menjadikannya sangat indah, dua sisi yang berbeda. Selain menikmatikeindahan wisata Bledug Kuwu, ternyata disana banyak sekali penduduk desa yangmencari nafkahnya dari Bledug Kuwu sebagai petani garam. Dari sumber air garambledug kuwu, petani garam mengolahnya hingga menjadi garam dapur. Kemashyuranrasa garam gledug kuwu pernah tercatat dalam sejarah keraton surakarta. Hal inidapat dibuktikan melalui berbagai keterangan dari masyarakat sekitarnya.Didaerah ini terdapat gunungan-gunungan kecil yang puncaknya mengeluarkan lumpurberwarna kekuning kuningan.
Bledug Kuwu mempunyai keistimewaan tersendiri, apabiladilihat dari peta geologi Dr AJ Panekoek, bahwasanya tanah-tanah yang adabledugnya adalah jenis Aluvial Plains (tanah endapatan atau tanah mengendap)bersamaan dengan meletupnya bledug, keluarlah uap, gas dan air garam. Suarabledug terjadi karena muntahnya kawah yang berupa lumpur dengan warna kelabuatau kelabu kehitam hitaman, tetapi kalau dicampur dengan air maka akan menjadiputih. Apabila diendapkan air endapan bledug kuwu adalah tanah kapur dan tepatsekali apabila disitu dulunya laut kemudian menjadi daratan, karena erosi darigunung kapur sudah tentu tanah endapannya mengandung kapur.

Gas yang terdapat pada letupan Bledug Kuwu merupakan gas metan biogenik (biogenic methanegas) yang merupakan hasil dari proses diagenesisdan biasa terjadi pada kedalaman 0 sampai 4 km. Terbentuk dari sisa jasadmahluk hidup serta aktifitas jasad renik anaerob pada kondisi temperatur tinggi(± 100 – 125°C) dan tekanan dari beban sedimen diatasnya. Untuk keterangantentang terjadinya proses diagenesis silahkan baca kembali artikel saya tentangProses Pembentukan Minyak Bumi.

Air formasi yang ikut terbawa keluar saat terjadi letupan gas mempunyai kadargaram (salinitas) yang tinggi dan sangat potensial untuk diolah menjadi garamdapur. Kelebihan garam dapur volcano ini adalah sudah mengandung yodium dengankadar yang lebih tinggi dibandingkan garam dapur hasil olahan dari air laut,meskipun berpotensi mengandung sianida juga, sehingga relatif bisa langsungdigunakan tanpa harus melalui proses penambahan yodium lagi kedalam garam.

Secara geologi, fenomena yang terjadi di daerah Kuwu disebut sebagai MudVolcano atau gunung api lumpur. Setiap ekstrusi pada permukaan lempung ataulumpur Bledug Kuwu membentuk suatu kerucut yang diatasnya terdapat suatutelaga. Ekstrusi tersebut dibarengi dengan keluarnya gas dan air (kadang-kadangjuga minyak) secara kuat, bahkan dengan suara ledakan. Seringkali gas yangdikeluarkan terbakar sehingga menyerupai gunung api. Sifat gunung api lumpurini sangat tergantung kepada iklim dan juga jumlah lempung yang dikeluarkan.
Terjadinya gunung api lumpur biasanya berasosiasi dengan suatukeadaan geologi yang lapisan sedimennya belum tekompaksikan, mempunyai tekanantinggi dan mengakibatkan timbulnya diapir dari serpih ataupun penusukan olehserpih. Gejala tersebut juga sering berasosiasi dengan daerah yang disebut ‘overpressured area‘, yaitu daerah tekanan tinggi yang tekanan serpihnya lebihbesar daripada tekanan hidrostatik, dengan demikian dapat menimbulkan kesulitanpemboran.Di sisi lain, terdapat cerita legenda yang menyertai terbentuknya Bledug Kuwu. Menurut cerita turun temurun yang beredar di kalangan masyarakat disitu, Bledug kuwu terjadi karena adanya lubang yang menghubungkan tempat itu dengan laut Selatan. Konon lubang itu adalah jalan pulang Joko Linglung dari Laut Selatan menuju kerajaan Medang Kamolan setelah mengalahkan Prabu Dewata Cengkar yang telah berubah menjadi buaya putih di Laut Selatan. Joko linglung konon bisa membuat lubang tersebut karena dia bisa menjelma menjadi ular naga yang merupakan syarat agar dia diakui sebagai anaknya.

Dongengpun selesai, waktu sorenya aku dan teman pulang dari Bledug Kuwu dan sampai di Jogja sudah menunjukan jam 20.00 WIB.
See u next time in my  journey.
Posted in Uncategorized | 2 Comments

Jurnal Geologi Daerah Rokan Hulu (tempat lahir Geoball) dan Rokan Hilir

INVENTARISASI DAN EVALUASI MINERAL NON LOGAM KABUPATEN ROKAN HULU DAN ROKAN HILIR, PROVINSI RIAU

Oleh : Zulfikar, Adrian Zainith, Andi S. Sulaeman
SubDit Mineral Non Logam
S A R I
Secara geografis daerah Kabupaten Rokan Hulu yang beribukota di Pasir Pengarayan terletak di antara garis-garis koordinat 100o 03’ 13” – 101o 00’ 12” Bujur Timur dan 0o 15’ 55” – 1o 25’ 48” Lintang Utara, dengan luas daratan sekitar 8.400 kilometer persegi. Sedangkan Kabupaten Rokan Hilir yang beribukota di Bagansiapiapi terletak di antara garis-garis koordinat 100o 17’ 00” – 101o 21’ 24” Bujur Timur dan 1o 14’ 22” – 2o 32’ 03” Lintang Utara, dengan luas daratan sekitar 9.300 kilometer persegi.
Batuan tertua yang terdapat di wilayah ini adalah kelompok batuan metasedimen dan malihan yang termasuk ke dalam Formasi Kuantan (Puku) serta Formasi Bohorok (Pub) berumur Permo – Karbon. Batuan tersebut diterobos oleh batuan granit Intrusi Rokan (MPiro), Granit Giti (MPigt). Selanjutnya di bagian atasnya secara tidak selaras diendapkan batuan-batuan sedimen berumur Tersier. Terakhir paling muda diendapkan endapan-endapan alluvium berumur Kuarter.
Dari hasil penyelidikan lapangan, di kedua daerah kabupaten ini telah ditemukan berbagai bahan galian non logam antara lain granit, felspar, kuarsit, bentonit, kaolin, pasir kuarsa, batugamping, marmer, andesit, sirtu, ballclay, dan lempung.
Di antara bahan galian tersebut, bahan galian yang dapat segera dikembangkan lebih lanjut adalah granit, felspar, sirtu, pasir kuarsa, dan lempung.
Disarankan untuk dilakukan penyelidikan yang lebih sistematik dan terinci untuk bahan galian bentonit di daerah Kecamatan Kabun, dan ballclay di daerah Kecamatan Kepenuhan, keduanya di Kabupaten Rokan Hulu.
PENDAHULUAN
Kegiatan inventarisasi bahan galian yang dilakukan di daerah ini dimaksudkan untuk mengumpulkan data dasar potensi bahan galian, baik lokasi keterdapatan, sumber daya (cadangan) maupun kualitasnya. Kegiatan ini ditujukan untuk mengetahui prospek pemanfaatan dan pengembangan bahan galian yang terdapat di daerah ini. Hasil kegiatan ini diharapkan akan menjadi masukan yang sangat berharga bagi pemerintah daerah otonom untuk menggali dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pertambangan umum serta lebih memberdayakan lagi perekonomian masyarakat di daerah.
Secara geografis daerah Kabupaten Rokan Hulu terletak di antara garis-garis koordinat 100o 03’ 13” – 101o 00’ 12” Bujur Timur dan 0o 15’ 55” – 1o 25’ 48” Lintang Utara, dengan luas daratan sekitar 8.400 kilometer persegi. Kabupaten Rokan Hulu terbentuk sejak tahun 1999 berdasarkan UU No. 53 Tahun 1999 dan Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 75 Tahun 1999 dengan ibukota di Pasir Pengarayan. Kabupaten ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Kampar dan mempunyai luas wilayah sekitar 8.400 km2, dibagi menjadi 12 wilayah Kecamatan dan 123 wilayah desa/kelurahan.
Sedangkan Kabupaten Rokan Hilir terletak di antara garis-garis koordinat 100o 17’ 00” – 101o 21’ 24” Bujur Timur dan 1o 14’ 22” – 2o 32’ 03” Lintang Utara, dengan luas daratan sekitar 9.300 kilometer persegi. Kabupaten Rokan Hilir terbentuk berdasarkan UU No. 53 Tahun 1999 dengan ibukota Ujungtanjung (untuk sementara sampai saat ini masih di Bagansiapiapi). Kabupaten ini merupakan pemekaran dari wilayah Kabupaten Bengkalis dan mempunyai luas daerah sekitar 9.300 km2 km2, dibagi menjadi 12 wilayah kecamatan serta 121 wilayah desa/kelurahan.
GEOLOGI UMUM
Kedua wilayah kabupaten ini tercakup ke dalam 5 (lima) lembar peta geologi skala 1 : 250.000, yaitu Lembar Dumai dan Bagansiapiapi (N.R. Cameron dkk, 1982), Lembar Pekanbaru (Clarke, M.C.G., dkk., 1982), Lembar Lubuksikaping (Rock, NMS., dkk., 1983), Lembar Padang Sidempuan dan Sibolga (Aspden, J.A., dkk., 1982), dan Lembar Pematangsiantar (Clarke, M.C.G., dkk., 1982).
Berdasarkan kelima peta geologi tersebut, diketahui bahwa batuan tertua yang terdapat di wilayah ini adalah kelompok batuan metasedimen dan malihan yang termasuk ke dalam Formasi Kuantan (Puku) serta Formasi Bohorok (Pub) berumur Permo – Karbon. Batuan-batuan tersebut diterobos oleh batuan granit Intrusi Rokan (MPiro) dan Granit Giti (MPigt). Batuan-batuan tertua serta batuan granit ini selanjutnya ditutupi oleh batuan-batuan malih dari Formasi Muarasoma (Mums) dan batuan batuan melange Kelompok Woyla (Muwm) berumur Jura hingga Kapur.
Selanjutnya di atas keseluruhan kelompok batuan tersebut, diendapkan secara tidak selaras batuan dari Formasi Pematang (Tlpe) berumur Oligosen Akhir, terdiri dari batulumpur, konglomerat kerakalan, dan serpih. Di atasnya secara tidak selaras diendapkan Formasi Telisa (Tmt) yang menjemari dengan Formasi Sihapas (Tms) berumur Miosen. Formasi Telisa terdiri dari batulumpur gampingan dan batulanau, bersisipan batugamping dan batupasir. Formasi Sihapas terdiri dari batulumpur, batulanau, dan batupasir. Selanjutnya secara tidak selaras berturut-turut diendapkan Formasi Petani (Tup) berumur Pliosen yang terdiri dari batulumpur, batulanau, dan batupasir serta Formasi Minas (Qpmi) berumur Plistosen Akhir dan terdiri dari batulumpur, batulanau, pasir dan kerikil. Di atas Formasi Minas secara tidak selaras diendapkan Endapan Permukaan Tua (Qp), dan terakhir Endapan Permukaan Muda.
 POTENSI MINERAL NON LOGAM
Dari hasil penyelidikan lapangan dan pengumpulan data sekunder, di kedua daerah kabupaten ini telah ditemukan berbagai bahan galian non logam antara lain granit, felspar, kuarsit, bentonit, kaolin, pasir kuarsa, batugamping, marmer, andesit, sirtu, ballclay, dan lempung.
Potensi masing-masing bahan galian tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut :
Kabupaten Rokan Hulu :
a. Granit, terdapat di daerah-daerah Desa Kotoranah, Kecamatan Kabun (sumber daya hipotetik 15 juta ton), Desa Tanjungmedan, Kecamatan Rokan IV Koto (12.5 juta ton), Desa Kaiti, Kecamatan Rambah (18 juta ton), Desa Giti, Kecamatan Kabun (310 juta ton). Kegunaan umum granit adalah sebagai batu hias (ornamen) pada dinding bangunan, bahan pembuatan ubin teraso, dan sebagai batu agregat untuk konstruksi bangunan gedung dan jembatan. Kegiatan pembangunan yang sangat pesat pada saat ini di wilayah Kabupaten Rokan Hulu khususnya dan di wilayah Provinsi Riau pada umumnya sangat membutuhkan batuan granit ini dalam jumlah besar.
b. Felspar, terdapat di daerah Desa Tanjungmedan, Kecamatan Rokan IV Koto (1,25 juta ton). Kegunaan utama felspar adalah sebagai bahan glasur untuk keramik. Di daerah desa Tanjungmedan, Kecamatan Rokan IV Koto, ditemukan endapan felspar dalam tubuh granit pegmatik. Ukuran kristal felspar yang cukup besar hingga mencapai lebih dari 10 cm memungkinkan felspar ini dapat dipisahkan dari komponen granit lainnya dengan cara peremukan batuan hingga ukuran tertentu. Di lokasi ini juga terdapat sabastone yang merupakan material hasil pelapukan granit yang sangat tebal dan kaya akan kandungan mineral felspar dan lempung. Hasil uji bakar menunjukkan bahwa sabastone ini dapat digunakan sebagai bahan campuran untuk pembuatan keramik badan bewarna.
c. Kuarsit, terdapat di daerah Desa Aliantan, Kecamatan Kabun (5 juta ton). Analisis kimia terhadap endapan kuarsit ini memberikan angka kandungan silika (Si2O3) sebesar 89,17%, dapat digunakan sebagai bahan baku dalam industri keramik.
d. Bentonit, terdapat di daerah Desa Kotoranah, Kecamatan Kabun (25 ribu ton). Endapan bentonit ini terbentuk dari hasil proses hidrotermal yang biasanya mempunyai mutu yang cukup baik. Dari analisis kimia diketahui kandungan SiO2 nya sebesar 53,46% dan Al2O3 31,88%. Salah satu kegunaan utama bentonit adalah sebagai bahan pemucat warna minyak sawit mentah (CPO).
e. Batugamping, terdapat di daerah Desa Cipang Kiri Hulu, Kecamatan Rokan IV Koto (74 juta ton). Batugamping mempunyai kegunaan yang sangat beragam dalam bidang industri, bangunan, dan pertanian.
f. Marmer, terdapat di daerah Desa Kaiti, Kecamatan Rambah (1 juta ton). Endapan marmer yang terdapat di daerah ini adalah berupa batugamping marmeran. Marmer ini dapat digunakan sebagai batu hias (ornamen) pada dinding ataupun lantai bangunan.
g. Kaolin, terdapat di daerah Kotoranah, Kecamatan Kabun (6 juta ton). Kaolin dapat digunakan sebagai bahan baku untuk pelapis dan pengisi pada berbagai industri ataupun sebagai bahan baku untuk industri keramik.
h. Andesit, terdapat di daerah Desa Kotoranah, Kecamatan Kabun (88 juta ton). Berdasarkan data dari Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Rokan Hulu, andesit di daerah ini mempunyai kualitas kuat tekan sebesar 1.168,27 kg/cm3 dengan rasio H/D lebih kurang 2,306. Endapan andesit ini sangat prospek untuk digunakan sebagai bahan fondasi ataupun sebagai agregat untuk bangunan.
i. Pasir Kuarsa, terdapat di daerah-daerah Desa Pawan, Kecamatan Rambah (1,25 juta ton), Desa Sungai Harapan, Kecamatan Tambusai Utara (200 ribu ton), Desa Lubuk Bendahara, Kecamatan Rokan IV Koto (22,5 juta ton), Desa Kabun, Kecamatan Kabun (42,5 juta ton). Endapan pasir kuarsa dari daerah Pawan mempunyai kandungan SiO2 total sebesar 93,23% dengan distribusi besar butir tertinggi (69%) antara 72-150 mesh. Untuk endapan pasir kuarsa daerah Sungai Harapan kendungan SiO2 sebesar 94,60% dengan distribusi besar butirnya sebanyak 42,5% mempunyai ukuran antara 35-72 mesh. Pasir kuarsa ini dapat digunakan sebagai bahan baku untuk berbagai jenis industri, antara lain industri semen, keramik, dan industri pengecoran logam.
j. Sirtu, terdapat di daerah-daerah Desa Rantau Kasai, Kecamatan Tambusai Utara (2,5 juta ton), Desa Bangun Purba Timur Jaya, Kecamatan Bangun Purba (25 juta ton), Desa Sungai Napal, Kecamatan Tambusai (5.juta ton), Desa Menaming, Kecamatan Rambah (15.juta ton), Desa Ujungbatu, Kecamatan Ujungbatu (5 juta ton), Desa Rokan, Kecamatan Rokan IV Koto (6 juta ton), Desa Batulangkah, Kecamatan Tandun (5.5 juta ton). Endapan sirtu yang cukup luas dan tebal di tempat-tempat tersebut mempunyai prospek yang sangat besar untuk dapat dikembangkan dan dimanfaatkan untuk menunjang pembangunan fisik yang sangat pesat di wilayah ini. Salah satu keistimewaan endapan sirtu ini adalah merupakan satu-satunya jenis bahan galian yang bersifat terbarukan, karena aliran sungai selalu membawa material baru menggantikan material yang digali atau menambah endapan yang ada.
k. Lempung, terdapat di daerah-daerah Desa Bangun Jaya, Kecamatan Tambusai Utara (2.5 juta ton), Desa Tali Kumain, Kecamatan Tambusai (125 ribu ton), Desa Daludalu, Kecamatan Tambusai (124 ribu ton), Desa Kepenuhan Hulu, Kecamatan Kepenuhan (3.75 juta ton), Desa Rokan Timur, Kecamatan Rokan IV Koto (250 ribu ton), Desa Tibawan, Kecamatan Rokan IV. Koto (25 juta ton), Desa Sukadamai, Kecamatan Ujungbatu (250 juta ton). Hasil uji bakar lempung dari daerah Daludalu menunjukkan bahwa lempung ini dapat dipergunakan sebagai bahan campuran (bahan plastis) untuk pembuatan keramik badan berwarna karena susutnya sangat tinggi. Sedangkan endapan lempung biasa yang terdapat dalam jumlah besar juga dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan bata merah ataupun keramik kasar / gerabah. Di beberapa lokasi terdapat tempat-tempat pembuatan dan pembakaran bata merah.
l. Ballclay, terdapat di daerah Desa Kepenuhan Barat, Kecamatan Kepenuhan (125 ribu ton). Ballclay merupakan sejenis endapan lempung yang sangat plastis dan mudah dibentuk sehingga sangat cocok untuk dijadikan sebagai bahan baku pembuatan benda-benda keramik. Keterdapatan ballclay berupa lensa-lensa tipis dengan sebaran yang cukup luas menyebabkan sulitnya penentuan jumlah sumber daya yang tepat secara keseluruhan hanya dengan pengamatan sepintas. Hasil uji sifat fisik setelah dibakar pada suhu 1200°C menunjukkan ballclay ini dapat dipergunakan sebagai bahan tunggal atau campuran untuk pembuatan keramik badan putih.
Kabupaten Rokan Hilir :
a. Pasir Kuarsa, terdapat di daerah Desa Tanjung Medan, Kecamatan Pujud (500 ribu ton). Distribusi besar butirnya 80,23% antara 72-150 mesh dengan kandungan SiO2 sebesar 93,17%. Pasir kuarsa ini dapat digunakan sebagai bahan baku untuk berbagai jenis industri, antara lain industri semen, keramik, dan industri pengecoran logam.
b. Lempung, terdapat di daerah-daerah Desa Bantaian, Kecamatan Batuhampar (1juta ton), Desa Tanjungpadang, Kecamatan Bangko Pusako (5 juta ton), Desa Tanjungmedan, Kecamatan Pujud (250 ribu ton, Desa Siarangarang, Kecamatan Pujud (500 ribu ton). Endapan lempung dengan besar butir yang sangat halus dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan benda keramik halus. Sedangkan endapan lempung biasa yang terdapat dalam jumlah besar juga dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan bata merah ataupun keramik kasar / gerabah. Di beberapa lokasi terdapat tempat-tempat pembuatan dan pembakaran bata merah.
Di antara bahan galian tersebut, bahan galian yang dapat segera dikembangkan lebih lanjut adalah granit, felspar, sirtu, pasir kuarsa, dan lempung. Kegiatan penggalian yang telah dilakukan hingga saat ini baru terbatas pada endapan lempung dan sirtu. Kedua jenis bahan galian ini digali oleh penduduk setempat secara kecil-kecilan di sejumlah lokasi.
Untuk kegiatan penambangan, terutama penggalian sirtu (pasir dan batu) diperlukan pengawasan yang ketat, karena umumnya para penambang kurang memperhatikan faktor lingkungan. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan tambang dan minimnya bimbingan dan pengawasan yang dilakukan oleh instansi terkait, sehingga seringkali mempercepat proses kerusakan lingkungan.
Selesainya rangkaian kegiatan inventarisasi dan evaluasi ini yang dimulai dari persiapan, pekerjaan lapangan, pengolahan data, hingga penulisan laporan tak terlepas dari bantuan yang telah diberikan oleh berbagai pihak. Atas segala bantuan dan dorongan yang telah diberikan, dengan kerendahan hati penulis mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya.
DAFTAR PUSTAKA
Cameron, N.R, dkk., 1992; “Peta Geologi Lembar Dumai dan Bagansiapiapi, Sumatra”; Puslitbang Geologi, Bandung.
Aspden, J.A., dkk., 1982; “Peta Geologi Lembar Padangsidempuan dan Sibolga, Sumatra”; Puslitbang Geologi, Bandung. 
Clarke, M.C.G., dkk., 1982; “Peta Geologi Lembar Pekanbaru, Sumatra”; Puslitbang Geologi, Bandung.
Clarke, M.C.G., dkk., 1982; “Peta Geologi Lembar Pematangsiantar, Sumatra”; Puslitbang Geologi, Bandung.
Rock, NMS., dkk., 1983; “Peta Geologi Lembar Lubuksikaping, Sumatra”; Puslitbang Geologi, Bandung.
Direktorat Sumberdaya Mineral, 1988; “Hasil Penyelidikan Lanjutan Sumberdaya Mineral Golongan C di Provinsi Daerah Tingkat I Riau”; Kerjasama antara Bappeda Provinsi Riau dengan Direktorat Sumberdaya Mineral, Bandung.
Riau Prima Karindo, PT., 2002; “Laporan Akhir Survey Awal / Pendataan Bahan Galian Golongan C, Tahun Anggaran 2002 di Kecamatan Rokan IV Koto dan Kecamatan Tandun”; Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Rokan Hulu, Pasir Pengarayan.
 Sumber : klik ini…!!!
Posted in geologi | Leave a comment

Kawah Ijen, Antara Surga dan Neraka (2368 mdpl)

Liburan kuliah kali ini, aku memutuskan untuk jalan-jalan ke timur Pulau Jawa, tepatnya ke Kawah Ijen (secara administratif masuk Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso). Dengan naik Kereta Sritanjung, tanggal 27 Juli 2011 aku dan teman aku yahya berangkat dari Jogja (Stasiun Lempuyangan). 
Teman aku yang jadi tour guide kali ini adalah Ragil, yang tinggalnya di Daerah Temuguruh (Banyuwangi).
Pagi-pagi sudah berangkat dari Jogja jam 07.00 WIB, sampai di Stasiun Temuguruh jam 22.15 WIB (Sekitar 15 jam perjalanan dari Jogja- banyuwangi).
Malamnya aku dan Yahya menginap di rumah Ragil😀, dan esok paginya berangkat ke Kawah Ijen.
Dengan mengendarai dua motor, aku dan kedua teman ku langsung tancap gas ke Kawah Ijen.
Kondisi jalan yang rusak, membuat perjalanan semakin lama, di tambah tanjakan yang mesti di tempuh ke Paltuding (basecamp register mendaki Kawah Ijen). Jadi, dari Temuguruh-Banyuwangi-Licin- Paltuding (register basecamp).
jalan rusak….(dari Licin ke Paltuding)
17 km lagi…
Berangkat dari pagi, sampai di Paltuding sore sekitar jam 15.00 WIB.
Paltuding….
di sini tempat registernya,,,,😀
Setelah register, aku dan kedua teman ku memutuskan untuk berangkat jam 2 malam (agar dapat melihat api alami yang ada di Kawah Ijen).
Sambil menunggu malam, aku pun memotret penambang lagi menimbang dan memuat belerang di truk yang lokasinya tak jauh dari Rest Area. Cekidot foto-fotonya😀
lokasi penimbangan belerang..
nimbang,,,
muat,,,
 Udah puas memotret, akupun ke warung pak Im yang ada di rest area. Menunggu dini hari di warung Pak Im (sampai-sampai menumpang menghangatkan badan di warung tersebut, karena ada api unggun,,haha).
ne di dalam warung pak Im,,,
Jam 02 dini hari, kamipun mulai mendaki dan melawan dinginnya malam itu. Dengan jalan yang sudah bagus, melewati Pondok Bunder dan kamipun sampai di pinggiran kawah. Jam 04.30 kami sampai di pinggiran kawah dan langsung di tawari oleh bapak penambang di situ untuk turun ke Kawah dengan di dampingi olehnya mengingat medan yang sulit dan gelapnya subuh.
Tak jarang, kami berselisih dengan penambang belerang dan sempat curhat colongan dengan bapak yang aku abadikn fotonya di bawah ini. Dia bilang, betapa tersiksanya jadi penambang belerang di sini, dengan gaji yang tak seberapa namun resiko pekerjaan yang sangat tinggi. Bayangkan saja, untuk harga 1 Kg belerang seharga Rp625,00, coba saja kalo beban yang dipikul oleh penambang 50 Kg (tergantung kekuatan penambang, semakin muda umur, semakin kuat bebannya), padahal jarak yang di tempuh sangat jauh dan beresiko. Tak salah kalau bapak ini bilang “Kawah Ijen, Surga bagi Pengunjung, tapi neraka bagi kami”. Curhatan sebentar itulah yang membuat judul tulisan aku kali ini “Antara Surga dan Neraka”.
 
Mendekati kawah, kamipun di lihatkan oleh bapak penambang melihat api biru yang alami (yang abadi walaupun ada hujan sekalipun).
Cekidot foto-foto api biru yang aku ambil pada jam 05.30.
api abadi…
api alam,,
Setelah motret foto api alam, akupun memotret danau Kawah Ijen yang terkenal sangat asam (mumpung asap belerangnya masih di arah yang lain,,,hehe).
di bawa angin,,
pinggiran danau kawah,,,
ijen pagi hari,,
ijen crater
cetak belerang…
penambang makan di tengah belerang,,
narsis dulu,,,haha
jalanan terjal..
my team,,
bersama bule gila dari Perancis,,hahaha
Itulah sedikit potret Kawah Gunung Ijen. Gunung kawah ijen memiliki sumberdaya gunung api bervariasi dan sangat potensial diantaranya   Sublimat belerang yang sudah dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan industri kimia.

Sumber mata air panas bertipe asam sulfat khlorida dengan suhu tujuh puluh derajat celcius dan pH sekitar dua koma enam terdapat didekat lapangan solfatara Ijen.  Danau kawah ijen merupakan reaktor multi komponen yang didalamnya terjadi berbagai proses,  baik fisika maupun kimia antara lain pelepasan gas magmatik,  pelarutan batuan, pengendapan, pembentukan material baru dan pelarutan kembali zat-zat yang sudah terbentuk sehingga menghasilkan air danau yang sangat asam dan mengandung bahan terlarut dengan konsentrasi sangat tinggi.


Setelah puas motret, aku dan teman-temanpun turun dari kawah. Dan barulah kami banyak berselisih dengan para bule-bule yang ingin menikmati alam Kawah Ijen. Kami cukup waktu 1 jam saja untuk sampai ke Rest Area.
Sampai di warung, akupun langsung memesan mie goreng dan teh panas di warung Pak Im. Setelah makan, istirahat sebentar dan langsung pulang ke Temuguruh melewati jalan yang sama waktu pergi.
Sampai di Temuguruh siang jam 13.00 WIB. Sesampai di rumah, akupun langsung istirahat.
Subuh tanggal 30 Juli 2011, aku dan yanhya pulang ke Jogja dengan menggunakan kereta Sritanjung.
nunggu kereta tiba,,,haha…
Yang unik dalam perjalanan ini, di kerata, aku dan Yahya ketemu lagi dengan bapak yang waktu pergi dari Jogja ke banyuwangi (haha,,,akhirnya aku dan Yahya sebangku lagi dengan dia,,,hahaha).
yahya dengan bapak yang sama,,,hahaha
Thanks buat Yahya dan Ragil sebagia teman seperjalanan. Ups, tak lupa dengan bapak yang satu kereta dengan aku (hahaha…..banyak kata-kata ceramah telontar darinya untuk aku,,,hahaha).
See u next time and see u next My Journey .😀
Posted in Uncategorized | 4 Comments

Mengenal Prof Dott Sampurno (Sang Pionir Geologi Teknik)


Saya dengan Prof Dott Sampurno beserta istinya (Waktu Kuliah Lapangan 2 di Bayat)


Dia salah seorang pionir geologi teknik dan lingkungan di Indonesia. Bidang keilmuan yang berkait erat dengan teknik sipil, bencana alam dan lingkungan. Bumi, kata guru besar Institut Teknologi Bandung (ITB), ini ibarat remasan kerupuk di atas bubur panas. Di Bumi ini terdapat lebih kurang 16 keping lempeng. Pergeseran satu lempeng itu, hari Minggu, 26 Desember 2004, mengakibatkan gempa yang disusul tsunami dan merenggut ratusan ribu jiwa manusia, di antaranya di Aceh dan Sumut.


Jika diibaratkan bumi ini sebesar bola sepak, maka tanah tempat manusia menempel di atasnya ibarat kulit yang tebalnya hanya 0,7 milimeter. Kulit yang tipis itu mengapung-apung di atas massa cair kental yang pijar bersuhu tinggi. Kulit bumi yang tipis terus bergerak, bergeser, saling mendesak, mengerut dan terkoyak atau sobek di sana-sini sehingga pecah berkeping-keping. Satu di antara pergeseran lempeng tersebut terjadi hari Minggu, 26 Desember 2004, mengakibatkan gempa yang disusul tsunami.

Pria kelahiran Semarang, 2 Desember 1934, dari keluarga sederhana pasangan M Koetojo dan Ny Moendijah, ini mengaku sudah tertarik dengan ilmu kebumian sejak SMP dan SMA. Kemudian, ia memasuki Jurusan Geologi FIPIA Universitas Indonesia (UI), kini Institut Teknologi Bandung (ITB), tahun 1954. Kala itu, tempat kuliahnya bekas bedeng asrama tentara, berupa bangunan setengah bata dan setengah bilik. Ruang baca bersatu dengan ruang tata usaha sehingga selalu ramai.

Dia menyenangi bidang geologi teknik karena hasil pekerjaannya bisa cepat dievaluasi dan banyak berhubungan dengan orang banyak. Tahun 1959-1962, ia melanjutkan studi geologi di Facolta di Scienae Universitas Degli Studi, Padova, Italia. Ia meraih gelar dottore in scienze geologiche dengan tesis berjudul Studio Petrografico della zona di Contatto di Val San Valentino, Adamello.

Saat studi di Italia itu, Sampurno merasa kagum melihat karya Prof Dr Dal Piaz yang mengolah geologi jalan raya Bologna-Florence di Italia. Sehingga minatnya tentang geologi semakin tinggi.

Sekembali dari Italia, dia bertekad kuat untuk mengaplikasikan ilmunya di Indonesia. Pertama kali, Sampurno mengaplikasikan geologi teknik dalam pemugaran Candi Borobudur. Saat itu, ada tiga hal yang menjadi perhatiannya, yakni keadaan tanah, bahan baku batuan dan penyediaan air. Berkat pengabdiannya dalam pemugaran Candi Borobudur, ia pun menerima piagam penghargaan dan medali dari Menteri P dan K pada 22 Februari 1983.

Saat aktif dalam pemugaran Candi Borobudur itu pula, ia berkenalan dengan ahli purbakala, Dra Sri Wuryani yang kemudian menikahinya tahun 1964. Pernikahan ini dikaruniai tiga anak, yaitu Vedy, Niya, dan Ista.

Dia dan keluarganya hidup bersahaja. Kebersahajaan itu tercermin dari kegemarannya berbaju batik atau lurik dengan alas kaki sepatu sandal, serta pilihan hidupnya menjadi dosen. Penggemar olahraga renang dan menyapu lantai atau halaman rumah, ini memulai kariernya sebagai pengajar di ITB sejak 1 September 1959, hingga menjadi seorang profesor. Setelah 45 tahun mengabdi, dia mengaku gaji pokok seorang profesor hanya Rp 1.447.700.

Maka, selain mengajar di ITB, ia pun mengajar di berbagai perguruan tinggi lainnya, seperti di Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung, STT Nasional Yogyakarta, Universitas Pakuan (Unpak) Bogor dan Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung.

Di kalangan mahasiswanya, ia dikenal sebagai dosen yang disiplin dan “galak”. Padahal, kalau di rumah, menurut pengakuan Niya, anak keduanya, tidak pernah marah. Di mata anak-anaknya, sang ayah terkesan paling senang kalau diajak makan di warung tenda. Jika ada pengamen, ia biasanya meminta dua sampai tiga lagu. Setelah itu pengamennya diajak makan bareng. Akan tetapi, kalau pengamennya waria, malah diminta cepat-cepat pergi.

Gaya dan semangat hidupnya bersahaja, hangat dan energik walau usianya sudah mencapai 70 tahun. Dalam usia 60 tahun, ia masih mampu mendaki puncak Cartenz di Pegunungan Jayawijaya, Irian Jaya. Seperti tidak mengenal lelah, dia selalu bersemangat menanamkan kepedulian masyarakat terhadap alam melalui ilmu pengetahuan geologi.

Sejak tahun 1970, ia turut menerapkan ilmu geologi dalam berbagai bidang pembangunan. Seperti geologi untuk bendungan, jalan raya, longsoran, pengadaan air bersih, pengembangan wilayah dan kota, serta lokasi pembuangan sampah padat. Selama 37 tahun sejak tahun 1963, dia mengaplikasikan keahliannya di bidang geologi teknik, sebagai tenaga ahli di Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Barat.

Dia juga aktif dalam Kelompok Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Pariwisata (KPPLH dan KPPPar-ITB). Hasil penelitian dan pemikirannya tentang geologi teknik dan lingkungan tersebut tersebar di berbagai media.
Dia memang punya kemampuan menulis secara populer. Di berbagai media, Sampurno menulis dengan bahasa yang sederhana, mudah dan enak dicerna oleh pembaca awam sekalipun, sehingga ilmu pengetahuan geologi itu lebih membumi.

Dia pun sangat beruntung memiliki pasangan hidup, isteri, yang ahli purbakala. Secara tertib, isterinya selalu menyimpan tulisan-tulisan tersebut, baik berupa hasil penelitian maupun kliping surat kabar dan foto-fotonya. Kemudian oleh anak-anaknya, kumpulan tulisan itu dibukukan.

Telah terbit dalam dua jilid, yakni Kilas Balik Pelangi Kehidupan Sampurno dan Jejak Langkah Geologi. Kedua buku itu memperlihatkan kecintaannya terhadap geologi lingkungan. Diluncurkan pada pelepasannya sebagai guru besar ITB, 18 Desember 2004, setelah hampir setengah abad merintis aktivitas pemikirannya. Namun, sebagai guru, dia mengaku, tak mengenal pensiun. Menurutnya, pensiun sebagai guru besar di ITB, merupakan awal untuk melanjutkan perjalanannya di tempat lain. 


Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kehidupan Pagi di Rawa Pening

18 Juli 2011, jalan-jalan kali ini aku bersama temanku Rori pergi ke Rawa Pening.
Sebuah tempat objek wisata yang bagus untuk di kunjungi.
Rawa Pening adalah sebuah danau alam secara administratif terletak di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Danau di ketinggian sekitar 478mdpl dengan luas sekitar 2.670ha dengan 4 kecamatan yang mengelinginya menjadikam Rawa Pening sangat vital keberadaanya.

Malam-maam aku pergi ke objek wisata ini, niatnya buat hunting foto pada paginya sambil melihat sunrise di Rawa Pening, tapi udah sampai di lokasi objek wisata, kita berdua malah bingung untuk tempat nginapnya (maklum aja, di lokasi gag ada tempat nginap). Akhinya kita kembali lagi ke arah Ambarawa, dan mencari penginapan di daerah sana.
Dan akhirnya dapat, aku dan teman aku Rori nginap di Hotel Sari di pinggir jalan raya Ambarawa.


Subuh jam 4.30 kami pun bangun dan bersiap-siap menuju lokasi objek wisata untuk melihat sunrise pada pagi itu.Sesampai di Rawa Pening, aku dan Rori menyewa perahu seharga 20 ribu sepuasnya (Perahunya gag pake mesin dan harus di kayuh, pantesan aja murahkan,,hehe).

Oke, cekidot aja foto-fotoku di Rawa Pening ya,,😀


Pagi di Rawa Pening
sunrise di Rawa Pening
dayung sampannya teman,,hehe
berangkat kerja,,,
nelayan Rawa Pening
Bergantung pada nasib,,,
Gunung Merbabu dan Telomoyo terlihat dari sini…
semangat kerja,,,
di Rawa Pening…
Geoball on Ship…hehe (kayak titanic aja,,wkwk…)

Itulah sedikit foto-foto jelek dari aku yag mana bisa membuat para reader ingin menikmati liburan ke sini. Rawa Pening juga di kelilingi 3 gunung, yaitu Gunung Ungaran, Merbabu dan Telomoyo. Jadi yang pengen liburan sambil foto-foto di Rawa Pening, siapkan tenaga yang banyak buat mendayung perahu (hehe,,,olahraga pagi,,,).

See u next time and next trip…😀

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Menggapai Puncak Gede (Gunung Gede, Jawa Barat, 2958 mdpl)

Ini pendakian Gunung Gede, Jawa Barat yang pertama bagiku, namun tidak begitu dengan teman-teman sependakian aku yang lain kecuali si Ujep yang juga firdt time mendaki Gn. Gede. Teman-teman sependakian aku ada empat orang, si Yeni, Bohok, Mitha dan Ujep.

16 Juni 2011
Perjalanan aku dimulai dari Bogor, karena sebelumnya aku udah di Bogor. Pukul 18.00 WIB, dari Terminal Baranangsiang, Bogor, aku naik angkot 01 dengan tujuan persimpangan ciawi. Dari persimpangan Ciawi, aku menunggu teman-teman dari Bekasi yang naik Bus ‘Doa Ibu’. Menunggu 15 menit, akhirnya Bus ‘Doa Ibu’-pun tiba dan aku berlari-lari masuk ke dalamnya dan ketemu semua teman-teman yang duduk paling belakang dan bus-pun meluncur seketika.

Kelokan kiri dan ke kanan daerah Puncak dan sejuknya malam terasa sekali dalam perjalanan. Dan 30 menit berselang, aku dan yang lain udah sampai di Cimacan. Di Cimacan, kami mesti naik truk bak terbuka untuk sampai ke Camp Gunung Putri (rupanya salah turun, maklum karena gelapnya malam, hehe). Di simpang masuk, kami turun dan melanjutkan perjalanan ke camp dengan mencarter angkot di dekat situ. Kami turun ketika jalan mobil tidak ada di depan, kami melanjutkan dengan menapaki jalan serapak ke Camp Putri yang sudah dekat.

Sampai di camp, kami langsung mengurus registrasi buat pendakian besok (registrasi disini cukup ribet, pendaftaran untuk mendaki harus seminggu sebelum melakukan pendakian dan pendaftaran di lakukan di camp jalur cibodas).

17 Juni 2011
Mentari-pun muncul, dan aku udah siap mengabadikan moment ini (moment di camp jalur Gunung Putri). Cekidot ajah foto-foto pagi harinya🙂

menara gunung😀
bulan di balik Gunung Gede Pangrango
Sunrise selesai, aku dan teman-teman yang lain segera packing dan bersiap melakukan pendakian😀 (sebelum melakukan pendakian, kita makan nasi goreng dulu, biar stamina lebih joss,,,haha..).
Siap melakukan pendakian, pukul 10.00 WIB, kami-pun melakukan pendakiannya. Bismillah, cekidot foto-fotonya yak.😀
depan camp gunung putri
pohon di pertengahan jalan
dulunya di sini camp Gunung Putri, shelter 1
di buntut lutung, shelter 2
berdua satu tujuan,,,😀
simpang meleber ( dari sini, ke Surya kencana bisa 2 jam lagi .. :D)
Setelah Trekking melewati jalan berakar, kamipun akhirnya sampai di Alun-Alun Surya Kencana. Tempat edelweiss bermekaran, tempat hunting foto yang terindah, itulah Surya Kencana. Dengan ditemani langit biru menambah bingkai cerita di siang itu😀. Cekidot foto-foto di Surya Kencana yah.
foto bareng di Surya Kencana
jalan di surya kencana
surya kencana dalam bingkai
awan biru diatas sana kawan…😀
ujeep lagi jalan,,,hehe
sunset di Surya Kencana

Di Surya Kencana kamipun mendirikan tenda, masak (disini sumber air sangat melimpah, jadi jangan takut keabisan air :D) dan bermalam dengan dinginnya Surya Kencana (sudah 6 hari Surya Kencana gag hujan, jadi bisa dibayangkan kalo dinginnya kayak apa…tepar aku kali ini😀 ).


18 Juni 2011
Bulan di pertengahan malam sangat indah, dinginya Surya Kencana telah mengalahkan aku untuk mengabadikan moment malam itu, dan aku melanjutkan tidur. Pagi-pagi buta, teriakan “nasi uduk” membangunkan aku dalam mimpi😀 dan sekali lagi, aku tidur karena dinginnya pagi itu😀.

Pukul 08.00WIB baru aku bangun dan langsung mencari matahari untuk meminta siraman panasnya😀.
Sambil moto-moto narsis di Surya Kencana bertabur adelweiss yang mekar (juni -juli adalah bulan bermekarannya bunga abadi tersebut.. :D). cekidot lagi foto-foto part 2 narsis di Surya Kencana.}

trio macan😀 haha…
still lonely
edelweiss

Abis bernarsis ria, aku dan teman-teman melanjutkan memasak

acara chief…haha
air mancur di surya kencana

Abis sarapan dan packing-packing untuk melanjutkan pendakian ke Puncak.
Dari Surya Kencana butuh 15 menit untuk ke Puncak. Dan setelah sampai di Puncak hamparan kawah segera menyambut mata kita untuk bersyukur akan kuasa Allah SWT.
Cekidot foto-foto di Puncak Gede yak,,,😀

kawah gede
jalan di atas langit
kawah itu…
gunung pangrango
jalur salabintana lewat sana..😀
my team advebture
jalan ke langit,,,😀
mengabadikan moment,,😀

Puas foto-foto di Puncak Gede, aku dan teman-teman yang lain-pun segera turun kebawah. Pukul 14.30 WIB kamipun turun melewati jalur Cibodas.

tanjakan setan
kandang badak (persimpangan gunung gede dan pangrango)
air terjun tepi jalan
rehat di tepi air panas
melewati hot spring
sampe di sini malam😀

Perjalanan dari Puncak gede ke Cobodas memakan waktu 5 jam. Melewati Tanjakan setan, kandang badak, kandang batu, air panas, pancayangan, dan terakhir Camp Cibodas.
Karena udah malam, aku dan teman yang lain menginap di warung makan yang ada di Cibodas (kebetulan si Bohok, kenal dengan penjaga warung makan itu,,,hehe).

19 Juni 2011
Menikmati udara segar dan lalu lalang orang-orang di Cibodas sangat merindukan hati. Secangkir kopi menemani pagi itu.

pagi di Cibodas

Pukul 10.00 WIB, aku dan teman-teman kembali ke rumah masing-masing (dengan menumpang mobil kenalan Bohok, kamipun pulang😀 ).

Thanks banget sama Yeni, Bohok, Mitha, dan Ujeep yang udah memudahkan pendakian kali ini. Dan sekarang aku tau betapa dinginnya Surya Kencana, terjalnya tanjakan setan, dan mistisnya Kandang Badak.

Tidak ada yang bisa aku bilang kecuali kata terima kasih kepada mereka dan tidak terlupa kepada Tukhanku, Allas SWT, yang telah melindungi selama pendakian dan memperlihatkan keagungan dan keindahan alam.

Foto-foto yang aku ambil, kalo bagus datangnya dari Tuhan, tapi kalo tidak bagus itu murni dari aku sendiri.

See u next My Journal and my Journey…😀

Posted in Uncategorized | Leave a comment